Riuh gemuruh suara aspirasi mahasiswa dan masyarakat sipil kembali bergema di Monumen Tugu Tani pada 20 Oktober 2026. Dimotori oleh BEM Universitas Indonesia (UI) bersama aliansi mahasiswa lintas kampus, aksi massa ini digelar guna menyampaikan rapor merah serta menuntut evaluasi total nasional atas dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dalam aksi tersebut, konsolidasi gerakan rakyat mengusung 5 Tuntutan Desakan:
1. Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional
- 2. Benahi Tata Kelola Ekonomi, hapuskan kebijakan yang memicu ketimpangan sosial.
- 3. Hentikan penyempitan ruang demokrasi dan intervensi militerisasi.
- 4. Berantas KKN: Bersihkan birokrasi dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
- 5. Turunkan biaya pendidikan serta wujudkan sistem pendidikan yang mengabdi pada rakyat.
Persoalan yang ada hari ini dinilai bukan karena ketiadaan solusi, melainkan kebijakan pemerintah yang terus melayani kepentingan elite. Hal ini ditegaskan oleh Pitengz, mahasiswa Universitas Esa Unggul yang ikut menyampaikan orasinya di atas mobil komando.
"Solusinya sebenarnya kita enggak pernah bermasalah, selama ada political will. Masalahnya, political will para pemangku kebijakan kita cuma buat kepentingan mereka sendiri dan proyek oligarki. Solusinya, mereka harus ubah kebijakan berdasar kepentingan masyarakat bawah," ujar Pitengz.
Aksi kali ini juga merekam potret kelam represi terhadap gerakan sipil. Menurut Pitengz, indikator pembungkaman kian nyata di lapangan mulai dari kasus pemukulan terhadap Korlap BEM UI, hingga teror digital seperti peretasan WhatsApp, pembajakan akun keluarga, dan fitnah status DPO terhadap para aktivis.
Meski begitu, berbagai intimidasi tersebut tak menyurutkan langkah para demonstran. Alasan utama mereka tetap melangkah dan bersuara di tengah ancaman adalah keyakinan teguh bahwa kekuasaan tertinggi di Republik ini berada di tangan rakyat.
Di tengah jalannya aksi, tersorot pula momen menarik saat beberapa warga dan mahasiswa nekat memanjat puncak Monumen Tugu Tani. Di atas ketinggian monumen tersebut, mereka membentangkan spanduk raksasa berisi lima tuntutan mendesak, membuat pesan perlawanan rakyat benar-benar 'mengudara' dan disaksikan langsung oleh massa aksi serta pengguna jalan yang melintas.
Pembubaran demonstrasi tersebut mungkin belum membuahkan hasil seketika. Namun, mahasiswa dan masyarakat sipil harus tetap menggenggam erat lima tuntutan ini agar tidak terhenti di paruh jalan. Perjuangan akan terus berlanjut dengan mengawal isu hingga tuntas, demi mendesak pemerintah menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.