Opini

LITERASI MENJADI FONDASI DEMOKRASI

Muhammad Riva Shalahudin Akbar
29 September 2026
Updated 1 month ago
Ukuran Teks
Bagikan

LITERASI MENJADI FONDASI DEMOKRASI

 

Prof. Koentjoro Poerbopranoto dalam bukunya yang berjudul Sistem Pemerintahan Demokrasi (1987) menyebutkan bahwa hak asasi manusia adalah hak yang bersifat mendasar. Hak tersebut dimiliki oleh setiap manusia berdasarkan kodratnya dan tidak dapat dipisahkan, sehingga hak asasi manusia dipandang sebagai sesuatu yang suci. 

 

Dalam negara demokrasi pendidikan merupakan penunjang utama agar demokrasi berjalan baik.. Karena keduanya memiliki kausalitas yang erat. Ketika demokrasi tidak dijalani oleh warga yang terdidik, maka yang terjadi hanyalah kebodohan yang selalu diberi status quo. Demokrasi haruslah dipimpin oleh meritokrat, bukan aristokrat.   

 

“Demokrasi akan tumbuh subur dan berkualitas hanya bila suatu bangsa memiliki tingkat pendidikan yang memadai dan merata”, ujar Amy Gutmann dalam bukunya Democratics Education.

 

Salah satu ciri utama dari pendidikan yang baik itu sendiri dapat dilihat dari tingkat kemampuan literasi dalam sebuah negara. Literasi itu sendiri menjadi penting karena setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, dan perilaku yang lebih luas. UNESCO sebagai badan khusus yang mewakili Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menegaskan bahwa literasi dan pentingnya pembelajaran adalah bagian dari hak. Sehubungan dengan hal tersebut, UNESCO mulai membahas perihal ini pada pada 17 November 1965 dan kemudian dirayakan pertama kali pada 8 September 1967.

 

Dengan ditetapkannya tanggal 8 September sebagai Hari Literasi Internasional, hal ini bukan hanya sebagai momentum kebutuhan belaka untuk berlangsungnya kehidupan dan bagaimana manusia mencapai haknya. Literasi harus ditempatkan sebagai kebutuhan pokok manusia dalam menentukan arah dan tujuan kehidupannya.

 

Perubahan harus tetap diperjuangkan walaupun pada hari ini kita dihadapkan dengan data yang mengatakan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (ILPM) di Indonesia masih rendah. Meskipun pada tahun 2024  Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) menembus angka yang cukup tinggi, yakni mencapai 72,44. Angka tersebut banyak disumbang oleh kalangan Generasi Z yang mulai membiasakan kegiatan literasi.

 

Dengan demikian, bertepatan dengan Hari Literasi Internasional, kita harus bercermin kembali sebagai seorang yang terpapar dengan pendidikan di banyak bangku sekolah membangkitkan kembali semangat literasi yang seharusnya menjadi dasar seseorang terpelajar. Kesadaran politik sangat diperlukan untuk negara Indonesia yang melabeli dirinya sebagai negara demokrasi hari ini, agar masyarakat bukan lagi hanya dipandang sebagai angka dalam suara pemilu, melainkan sebuah pilihan untuk memulai perubahan baru.